Home » » Sebaiknya Kurangi Kata "MUNGKIN"

Sebaiknya Kurangi Kata "MUNGKIN"

Written By MRizal Wrc on Rabu, 10 Oktober 2012 | 10/10/2012


Sering sekali aku mengikuti beberapa forum yang diisi oleh senior atau sejawat. Diskusi-diskusi yang terjadi seringkali menjadi hal yang berisi penawaran sesuatu yang terkesan meragukan. Mengapa? Seringkali aku mendapati perkataan “mungkin” dalam jumlah yang banyak. Terkadang argumen yang dibangun pun tidak lepas dari mungkin, bahkan hal yang sebenarnya sudah jelas pun masih diikuti dengan kata “mungkin”.
Ada apa dengan “mungkin”? Tiba-tiba aku tertarik untuk mengupas kata ini. Karena kebanyakan hari ini teman-teman yang terlibat dalam dunia keaktivisan dan keorganisasian menjadikan kata ”mungkin” secara dominan dalam beberapa komunikasi seperti klarifikasi dan negosiasi. Apa dampaknya?
Jika “mungkin” sering diucapkan dalam berbagai forum klarifikatif, misalnya sebagai pembicara atau diskusi panel, maka akan timbul kesan pada pengucapnya seperti spekulan atau orang yang tidak meyakinkan kapabilitas keilmuannya. Sehingga terkadang akan menurunkan kepercayaan orang yang berkomunikasi dengannya. Terlebih jika ini dalam forum kajian atau sebuah sesi berbagi. Maka solusinya adalah banyak membaca atau bawalah catatan kecil yang berisi referensi sumber-sumber penguat argumentasinya. Dengan demikian, penggunaan kata “mungkin” dapat ditekan dan memberi kesan lebih meyakinkan dalam berkomunikasi dengan orang-orang yang punya kepentingan.
Selanjutnya, jika “mungkin” sering dipakai dalam kosakata negosiasi, maka boleh jadi semua rencana negosiasi baik dalam kerja sama terlebih mengajukan permohonan akan mengalami kegagalan. Sehingga kebiasaan itu akan menurunkan tingkat kepercayaan orang yang sering interaksi atau mempunyai kepentingan yang sama. Maka solusinya adalah perbanyak persiapan dan tampunglah berbagai masukan dari teman-teman.
Dan mengapa “mungkin” sering terucap? Boleh jadi kita belum melakukan atau mengetahui pengalaman bagaimana menjaga kepentingan yang sudah ada. Dengan banyaknya pengalaman dan akses informasi yang cukup, semoga produktivitas berkarya semakin meningkat. Mari tinggalkan kebiasaan untuk sering berkata mungkin ketika berkomunikasi dengan orang lain. Terlebih jika nanti sudah menjadi ustadz, jika kita berkata “mungkin” ini benar dan itu salah. Kalau ketemu taqlider, kita bakal jadi penanggung dosa-dosanya mereka saat mereka hanya mengangguk dan mengikut. Mau begitu?

Semoga Kutipan Diatas bermanffaat dan jangan lupa tinggalkan KOMENTAR
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

SHARE YOUR MIND !
Pengunjung yang Baik Selalu Meninggalkan Komentarnya ...
Harap Berkomentar dengan Sopan dan Baik ..
No Live Link Bagi siapa yang berkomentar live Link langsung Saya Hapus..
Jika Ingin Menggunakan emotion dibawah Klik dan Copy Paste simbolnya ..
terima Kasih!

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Mr RealFact - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger